/Cara Kerja Fraud Detection System dan Manfaatnya Untuk Bisnis
Cara Kerja Fraud Detection System dan Manfaatnya Untuk Bisnis

Cara Kerja Fraud Detection System dan Manfaatnya Untuk Bisnis

22 tahun silam, skandal fraud terbesar di dunia terjadi di Amerika Serikat dengan bangkrutnya Enron. Enron, perusahaan trading komoditas terbesar di negeri Paman Sam tersebut hancur dalam 1 bulan karena tindakan fraud (penipuan) menggunakan mekanisme akuntansi. 

Kini, modus operandi fraud di sebuah perusahaan tidak hanya menggunakan mekanisme akuntansi. Seiring dengan perkembangan teknologi, berkembang pula cara seorang pencuri untuk menipu sistem, mulai dari memasang mesin tambahan di balik mesin EDC untuk merekam data kartu kredit dan debit, hingga menipu sistem deteksi biometrik menggunakan topeng. 

Oleh sebab itu, kini penting bagi sebuah perusahaan untuk menerapkan fraud detection system (FDS). 

Pengertian Fraud Detection

Fraud detection adalah adalah serangkaian aktivitas yang didesain untuk mengambil tindakan sebelum uang atau aset diambil oleh penipu yang tidak bertanggung jawab. 

Fraud detection system (FDS) dibutuhkan oleh semua industri. Pasalnya, penipuan atau fraud yang dilakukan oleh seseorang bisa berbeda-beda tergantung dengan situasi dan kondisi.

Dalam transaksi perbankan misalnya, bank bisa mendeteksi adanya fraud ketika ada satu kartu kredit yang digunakan di dua daerah yang berbeda secara bersamaan. Sedangkan contoh fraud bagi perusahaan asuransi termasuk sengaja memalsukan sebuah kecelakaan untuk mendapatkan klaim. 

Sistem ini terbagi menjadi dua, yaitu:

  1. Fraud detection system (FDS) untuk calon pengguna atau customer. Sistem ini digunakan untuk menghindari adanya pengguna palsu, pengguna dengan akun double, calon nasabah bermasalah dan lain sebagainya. 
  2. Fraud detection system (FDS) untuk customer yang sudah ada. Sistem ini bertujuan untuk mendeteksi penipuan yang dilakukan oleh pelanggan yang sudah ada sebelumnya. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari memasukkan data jual beli dengan nominal di atas kewajaran, hingga penipuan akibat kartu kredit yang hilang dan lain sebagainya.

Cara Kerja Fraud Detection System

Cara kerja sistem untuk mendeteksi fraud di sebuah perusahaan bisa jadi berbeda dengan sistem yang digunakan di perusahaan lainnya karena adanya perbedaan kebutuhan.

Namun, menurut laman techtarget.com, umumnya sistem ini berkaitan dengan serangkaian aktivitas berulang yang digunakan untuk memetakan pola kerja fraud itu sendiri. 

Hasil pemetaan tersebut kemudian digunakan untuk menyusun sistem atau algoritma yang ditujukan untuk mencegah pola fraud yang sama terjadi lagi. Dalam hal ini, praktisi bisa menggunakan analisis data statistik maupun kecerdasan buatan (AI).

Namun demikian, seiring dengan semakin rumitnya model berbagai jenis fraud yang terjadi dan semakin tingginya frekuensi fraud, maka pemasangan sistem fraud detection secara real time menggunakan AI lebih disarankan. Contohnya adalah teknologi liveness detection saat memverifikasi pengguna baru dalam sebuah layanan.

Adapun cara kerja fraud detection system menggunakan model ini bisa meliputi proses:

  1. Data mining. Data pelanggan diambil seperlunya untuk kemudian dikelompokkan sesuai klasifikasi yang berlaku. Hal ini bertujuan supaya data transaksi konsumen tersebut bisa diketahui, sehingga pola fraud mulai terbentuk terbentuk.
  2. Menemukan pola dengan neural network. Setelah data terkumpul dan pola transaksi mulai terlihat, kini AI dengan neural network mulai mencari pola-pola transaksi yang dirasa mencurigakan. Pola-pola transaksi ini kemudian dianalisis lebih lanjut supaya bisa diklasifikasikan menjadi fraud atau tidak.
  3. Machine learning. Benang kusut mulai terurai, kini pola fraud mulai terlihat menggunakan machine learning.
  4. Pattern recognition. Setelah pola fraud terlihat, sistem secara otomatis akan mendeteksi fraud dan mengelompokkannya sesuai dengan pola dan karakteristik lainnya. 

Mari kita ambil contoh dari sistem deteksi fraud yang dikembangkan oleh Google Business Group (GBG), salah satu anak perusahaan Google yang mengurusi masalah Google di bidang ini. Menurut Dev Dhiman, Managing Director GBG untuk Aisa dan Pacific, strategi yang dilakukan Google untuk mengatasi masalah ini adalah:

  1. Fraud detection system GBG akan mengeluarkan digital credit scoring berdasarkan data nasabah yang berhasil dikumpulkan. 
  2. Sistem ini juga akan mengecek alamat email dan IP Address pengguna untuk mengetahui apakah jaringan atau alat pengguna tersebut disisipi oleh virus seperti trojan atau malware atau tidak. 
  3. Tidak hanya email pemeriksaan yang sama juga dilakukan kepada nomor handphone pengguna. 
  4. Google juga akan melakukan cross check ke data-data kependudukan yang dimiliki oleh pemerintah untuk memastikan kalau pengguna tersebut benar-benar manusia dan bukan robot serta memastikan kalau pengguna tersebut bukan penipu.

Manfaat Fraud Detection System untuk Bisnis

Saat ini seluruh industri membutuhkan sistem ini. Mengapa demikian? Berikut ini manfaat dari menyusun dan menggunakan sistem fraud detection yang baik:

1. Melindungi perusahaan dari pengguna yang bermasalah

Misalnya, dengan melakukan deteksi dini terhadap ada atau tidaknya virus pada gawai dan jaringan yang digunakan oleh pengguna, perusahaan bisa melindungi diri dari tindakan peretasan (hacking). Hal ini tentu akan menguntungkan perusahaan, khususnya perusahaan keuangan, karena tidak jarang peretasan sistem yang berhasil dapat menggondol uang dalam jumlah banyak dari database perusahaan.

Perusahaan yang memanfaatkan e-KYC untuk bisnis juga bisa mencegah tindak kejahatan dengan menyaring calon pengguna yang berpotensi tinggi melakukan fraud.

2. Melindungi pengguna lain dari pengguna bermasalah

Contohnya, dengan sistem yang mampu mendeteksi adanya pemasangan GPS palsu oleh driver atau driver yang mengelabui sistem biometrik dengan menggunakan topeng, perusahaan dapat menghindarkan pelanggan dari tindakan kriminal, mulai dari perampokan, hingga penculikan. Pada akhirnya, hal ini akan berakibat pada peningkatan tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan yang disediakan perusahaan. 

3. Menekan potensi terjadinya money laundering

Tindak pidana pencucian uang (TPPU) atau money laundering seringkali dilakukan dengan cara mengirim uang atau melakukan transaksi menggunakan banyak akun atau rekening sekaligus namun setiap rekening hanya digunakan untuk mengeksekusi sebagian dari tindak pidana tersebut. 

Di satu sisi, bagi perusahaan hal ini bisa jadi menguntungkan mengingat ini artinya ada peningkatan jumlah transaksi. Namun di sisi lain, hal ini berpotensi menjebak perusahan ke dalam skandal yang bisa jadi berakibat permanen terhadap bisnis perusahaan tersebut.

4. Menciptakan ekosistem transaksi yang aman dan nyaman

Tidak ada pengguna yang baik yang mau menggunakan aplikasi dengan sistem keamanan yang payah. Maka dari itu, adanya sistem fraud detection yang baik diperlukan untuk membuat ekosistem transaksi yang aman dan nyaman, sehingga pelanggan puas dalam menggunakan aplikasi tersebut. 

5. Meningkatkan pendapatan dan keuntungan

Pada akhirnya, penerapan sistem deteksi fraud ang baik akan membuat pendapatan dan keuntungan perusahaan meningkat. Hal ini karena pelanggan betah membeli barang dan jasa perusahaan tersebut, risiko penipuan dan peretasan dapat dikurangi, serta risiko terlibat masalah dengan pejabat publik di masa depan dapat ditekan.

Dewasa ini, fraud dalam bentuk manipulasi akuntansi sebagaimana yang dilakukan Enron 22 tahun lalu memang masih bisa terjadi. Namun seiring dengan semakin kompleksnya sistem dan transaksi keuangan, bukan hanya perusahaan, pelanggan juga dituntut untuk lebih hati-hati dalam menjaga diri dari fraud, dalam bentuk apapun.

Be Sociable, Share!

    Farichatul Chusna memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi secara jelas dan mudah dipahami, sehingga tulisannya seringkali menjadi sumber referensi bagi pembaca yang mencari informasi yang akurat dan terpercaya.