[2018] Privy untuk jasa kesehatan: hadir di IYPG Summit

PrivyHealth
CEO Privy.

CEO Privy menjadi salah satu pembicara di IYPG Summit

Privy (sebelumnya PrivyID) selalu berinovasi untuk mencapai terobosan baru. Dari sekian industri, Privy untuk jasa kesehatan juga menjadi pertimbangan pendiri dan pengelolanya.

Indonesian Young Pharmacist Group (IYPG) merupakan organisasi di bawah binaan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) yang mewadahi para apoteker yang berusia maksimal 35 tahun. Pada tahun 2018 ini, IYPG mengadakan konferensi nasional untuk pertama kalinya. 

Acara bertajuk The 1st IYPG Summit yang dilaksanakan pada hari Jumat sampai Minggu, 17-19 Agustus 2018 ini bertempat di Bandung Creative Hub. Konferensi yang direncanakan untuk berlangsung tahunan ini diadakan oleh IYGP dengan tujuan menciptakan ajang kolaborasi antar-apoteker muda dalam meningkatkan pembelajaran dan pengabdian bagi masyarakat.

Acara diawali dengan penyelenggaraan rapat koordinasi anggota yang berlangsung sepanjang hari pertama. Di hari kedua, IYPG mengundang beberapa pembicara yang berasal dari kalangan kementerian kesehatan, BPOM RI, brand ambassador produk kesehatan, serta pelaku industri teknologi informasi. CEO Privy, Marshall Pribadi, beserta salah satu Project Leader-nya yaitu Donny Indra Kusuma, berkesempatan untuk turut hadir sebagai salah satu pembicara pada acara IYPG Summit.

acara IYPG Summit

Tanda tangan digital merupakan solusi dari kasus pemalsuan dan penipuan yang kerap merugikan industri farmasi

Peranan Perkembangan TI di Bisnis Farmasi

Meski saat ini Privy berfokus dalam menyediakan layanan tanda tangan digital, di masa yang akan datang Privy memiliki misi untuk memperluas layanan yang akan merambah dunia kesehatan. Dalam presentasinya yang berjudul “Arah Gerak Bisnis Farmasi di Era Transformasi Industri 4.0”, Marshall dan Donny menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi juga memiliki dampak pada bidang kesehatan digital di Indonesia. Bila dimanfaatkan dengan baik, perkembangan teknologi informasi akan menunjang perkembangan bisnis kesehatan, termasuk bisnis farmasi.

Berbagai kasus yang kerap terjadi di dunia kesehatan seperti peniruan tanda tangan dokter, jual-beli surat izin sakit, peredaran obat palsu, hingga dokumen rekam medis yang terpencar di berbagai rumah sakit bisa kita eliminasi dengan integrasi data dan identitas berbasis teknologi informasi, seperti yang saat ini sudah berjalan di beberapa negara maju.

Misalnya saja, seorang apoteker, fisioterapis, atau perawat berkebangsaan Belgia bisa mendaftarkan diri untuk memiliki European Professional Card agar dapat memiliki izin praktek di sesama negara anggota Uni Eropa. Di Jerman, data pasien termasuk identitas dan rekam medisnya bisa disimpan dalam satu kartu dengan chip khusus.

Seluruh sejarah penyakit dan tindakan medis yang pernah pasien tersebut jalani diintegrasikan secara digital dan bisa diakses dengan mudah melalui kartu tersebut. Integrasi data profesi dan rekam medis ini memungkinkan pemerintah, warga, dan para profesional di bidang kesehatan untuk menurunkan risiko penipuan sekaligus mempermudah proses penyembuhan.

Penyerahan plakat.

Donny, PrivyHealth Project Manager menerima plakat dari panitia IYPG

Privy untuk jasa kesehatan: Digital Signature jadi salah satu komponen strategi e-Kesehatan Nasional

Integrasi data sensitif seperti ini tentunya membutuhkan infrastruktur yang mampu menjamin keamanan data pengguna. Selain itu, teknologi yang digunakan juga harus bisa memverifikasi validitas informasi yang terkandung di dalamnya. Pemerintah Indonesia melalui PMK No. 46 Tahun 2017 telah menetapkan Strategi e-Kesehatan Nasional yang meliputi 7 komponen:

a. tata kelola dan kepemimpinan (governance and leadership);

b. strategi dan investasi (strategy and investment);

c. layanan dan aplikasi (services and application);

d. standar dan interoperabilitas (standards and interoperability);

e. infrastruktur (infrastructure);

f. peraturan, kebijakan, dan pemenuhan kebijakan (legislation, policy, and compliance); dan

g. sumber daya manusia (workforce).

Tanda tangan digital yang telah memenuhi syarat-syarat legal merupakan salah satu bagian dari komponen standar dan interoperabilitas, karena tanda tangan digital mampu memverifikasi identitas penandatangan serta informasi yang terkandung pada dokumen elektronik.

Tanda tangan digital yang legal juga dipastikan telah dibangun dengan implementasi manajemen keamanan sistem informasi berstandar internasional, sehingga dinilai mampu untuk menjaga keamanan data pribadi pasien dan profesional kesehatan.

Rancangan desain antarmuka PrivyHealth

PrivyHealth: Terobosan Terbaru Privy di Bidang Kesehatan

PrivyHealth merupakan rancangan produk baru Privy yang saat ini sedang berada dalam tahap riset dan inkubasi. Aplikasi PrivyHealth dirancang untuk mempermudah kerja profesional, baik itu dokter, apoteker, hingga petugas administrasi rumah sakit, melalui integrasi data identitas dan rekam medis pasien. Tentunya, informasi yang terdapat dalam aplikasi PrivyHealth sudah diverifikasi terlebih dahulu oleh petugas kesehatan yang melayani.

PrivyHealth direncanakan untuk memiliki fitur end-to-end yang meliputi seluruh proses yang saat ini biasa kita lakukan secara manual di rumah sakit. Mulai dari pengisian formulir identitas pasien, siapa saja dokter yang pernah melayani, rekam medis elektronik, hingga pemesanan obat secara elektronik.

Layanan PrivyHealth juga akan terintegrasi dengan akun pengguna tanda tangan digital Privy. Sehingga, seluruh informasi yang dimasukkan ke dalam database PrivyHealth dipastikan hanya dilakukan oleh identitas yang terverifikasi. Riwayat perubahan data juga dapat dengan mudah diketahui.

Tinggalkan Balasan