/Kekerasan Anak Memicu Pemblokiran Game oleh Pemerintah
Sensor video game

Kekerasan Anak Memicu Pemblokiran Game oleh Pemerintah

Oleh Marshall Pribadi – Founding CEO PrivyID

Isu seputar wacana pemblokiran beberapa game oleh pemerintah menjadi pembicaraan yang hangat di berbagai komunitas. Hal tersebut dipicu oleh paradigma bahwa game memiliki korelasi yang kuat dengan kekerasan anak. Belum lama ini, KPAI merilis tingginya kasus kekerasan anak dimana salah satu faktor tingginya kekerasan anak adalah game online yang terlalu bebas diakses anak.

Sensor video game
Sensor video game

Di berbagai negara lain, masalah ini ditanggulangi dengan standar peringkat (rating) yang menentukan suatu game hanya dapat dikonsumsi oleh kelompok usia tertentu. Di Amerika Serikat peringkat tersebut diberikan oleh ESRB di Uni Eropa diberikan oleh PEGI , dan ACB di Australia. Sedangkan Indonesia belum memiliki sistem dan lembaga pemeringkat yang baku.

Mendikbud Anies Baswedan juga berpandangan senada Game itu tergantung cara penggunaannya. Jangan anti game, jangan juga buta progame. Tidak semua game memiliki karakteristik yang cocok untuk dimainkan anak-anak.  Orangtua perlu tahu dan peduli bahwa ada sistem peringkat (rating) yang memberi peringatan pembelinya tentang kecocokan konten untuk dimainkan anak usia tertentu. Sehingga anak-anak terhindar dari dampak buruknya,” urai Mendikbud Anies Baswedan melalui siaran pers, Senin (25/4).

Tetapi dalam pelaksanaannya, sangatlah sulit untuk mengawasi bahwa game yang dimainkan oleh anak telah sesuai dengan peringkat untuk kelompok usianya. Apalagi untuk game online yang tidak mengharuskan tatap muka dalam membeli atau memainkan game. Walaupun kebanyakan publisher game mewajibkan usia minimum tertentu untuk memainkan game-nya, pemain dengan mudahnya mengisi tanggal lahir palsu saat registrasi akun game agar Ia dianggap sudah dewasa. Hal ini terjadi karena apapun data yang diisi saat registrasi bermain game, termasuk nama dan tanggal lahir tidak diverifikasi kebenarannya. Orang dapat mengaku sebagai siapa saja dan berusia berapa saja di internet.

Email telah menjadi akar identitas seseorang di ruang siber, pembuatan semua akun di web atau aplikasi merujuk kepada email. Apabila seseorang lupa dengan username dan passwordnya, maka instruksi untuk menyetel ulang password akan dikirim ke email. Masalahnya adalah, untuk membuat suatu alamat email, orang tidak diwajibkan untuk memberikan identitas yang dikeluarkan oleh pemerintah. Setiap orang dapat berbohong mengenai identitasnya, bahkan orang dapat membuat alamat email dengan jumlah tak terbatas dan membuat alamat email apa saja, joko.widodo@istana.com misalnya.

PrivyID menyelesaikan isu tersebut dengan menyediakan identitas terpercaya di ruang siber (Trusted Identity in the Cyberspace). Pembuatan PrivyID tier-1 minimal harus didukung dengan KTP Elektronik yang akan diverifikasi, dan setiap NIK hanya dapat memiliki satu PrivyID, sehingga pemegang PrivyID layak dipercaya bahwa Ia adalah benar-benar orang yang diklaim sebagai dirinya di ruang siber.

Jika pemerintah dan/atau publisher game mewajibkan agar pemain game masuk  menggunakan PrivyID, maka anak-anak yang belum dewasa tidak akan bisa bermain game dengan peringkat yang tidak sesuai dengan usianya. Dengan secured Login API PrivyID, pemain tidak lagi secara manual menginput data dirinya saat registrasi sehingga dapat diisi dengan tidak benar, semua data otomatis terisi dari data KTP yang digunakan dalam pembuatan PrivyID yang bersangkutan. Sedangkan anak-anak yang belum memiliki KTP akan dianggap sebagai pemain dibawah usia 17 tahun.

Kami siap sedia melayani segala pertanyaan anda mengenai PrivyID – assist@privy.id

 

Be Sociable, Share!